Satu tahun pun berlalu sejak aku meninggalkan Yogyakarta. Kota yang sarat akan warna-warni kehidupan. Bukan hanya dari kampus dan keraton, melainkan pantai, pasar, dan juga tempat ibadah. Mereka mewakili Indoneaia dengan cara yang unik.
Aku tidak pernah menyangka, jika pada akhirnya aku akan menetap di Kalireja. Sebuah desa kecil di selatan pegunungan Kendeng. Masuk ke dalam kecamatan Wirosari, kabupaten Grobogan.
Desa yang hanya berpenduduk lebih dari limaribu limaratus orang. Dengan luas kurang dari limaribu hektar tanah dan sawah. Yang artinya, penduduk di desa ini masih cukup jarang. Rata-rata mereka adalah petani dan peternak, yang mengandalkan hasil sawah dan ladang.
Sebuah sungai mengular, melingkari desa kecil ini. Sebagian daratan berupa tanah padas, sementara bagian lainnya berkapur. Hutan tumbuh lebat di dataran ini, namun kering pada musim kemarau.
Dibandingkan dengan Yogyakarta, tinggal di Kalireja, tentu sangat berkebalikan. Ibarat bumi dan langit. Jogja yang hidup pada malam hari dengan pagelaran seni, diskusi-diskusi ilmiah, dan wisata kuliner. Sementara desa ini hanya mengisi malam-malam dengan nyanyian katak dan jangkrik di persawahan.
Sebagai penggemar teater, tentu aku merasa sangat kehilangan. Di Jogja, dalam sepekan, bisa ada 2 atau 3 pertunjukan dari berbagai tempat. Meski hanya sekedar tari-tarian di Malioboro. Dan sebagai penggemar buku, aku pastilah merasa sedemikian terasing. Sulit menjumpai toko buku atau perpustakaan di sekitar desa, bahkan di kota kecamatan.
Hal ini sudah pasti berlaku, bahkan di desa-desa atau kota-kota lain sekalipun. Buku dan teater seringkali eksis hanya di persekitaran kampus.
Berbeda dengan Yogyakarta dan kampus-kampus istimewanya, Grobogan yang notabene bukan kota pendidikan, jarang ditemukan kampus. Pendidikan umumnya berpusat di kota kabupaten. Sementara jarak antara kecamatan Wirosari ke kota kabupaten lumayan jauh (22 kilometer).
Akses jalan, seperti halnya di desa-desa lain di Indonesia, kerap kali menguras kesabaran. Barangkali jika jarak sepuluh kilometer di Yogyakarta bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, di sini bisa sampai setengah jam. Oleh karenanya jika ingin hilir mudik ke kota kabupaten, apalagi di tengah jadwal yang padat, sangat kecil kemungkinannya.
Sedih mengingatnya memang, jika dulu aku bisa dengan puas menyelami lautan ilmu dan pengetahuan, mengeksplorasi samudera seni dan budaya, kini jalanku seolah terhalang oleh bukit koral dan bebatuan. Kedua kakiku terikat oleh kondisi geografis dan minimnya infrastruktur penunjang hobi dan minat.
Namun aku sepenuhnya sadar, bahwa tinggal di desa Kalireja, merupakan pilihan yang tidak dapat dipersalahkan asal-usulnya. Ada banyak hal penuh makna kulalui dalam satu tahun terakhir tinggal di desa ini. Dan hidup bersama orang-orang desa, di desa yang masih menjaga kearifan lokal dan alam, bukanlah sesuatu yang baru bagiku.
Terlebih dari semua itu, tinggal di desa merupakan konsekuensi bagi pekerjaan yang telah aku ambil. Menjadi Account Officer Mikro di salah satu Lembaga Keuangan non-bank, PT Permodalan Nasional Madani (persero). Akan ada banyak pengalaman yang nantinya aku bagi kepada pembaca bahagia di manapun kalian berapa. Karena nyatanya dalam setahun ini, banyak sudah pelajaran yang aku ambil, baik itu sebagai Account Officer, maupun sebagai pribadi yang gemar belajar dan menulis.
Wirosari, 07-08-2019.
Khaerul A
Penulis bebas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar